Impas
Sekarang impas. Kau terluka. Aku terluka. Kita terluka. Kau pergi. Aku pergi. Kita… tak ada lagi. Lalu hubungan ini, sebatas kenangan yang indah. Selebihnya, hanya potret dengan senyum-senyum bahagia. Kau tersenyum. Aku tersenyum. Kita seperti bahagia.
Tapi sekali lagi. Inilah alasanku membenci potret. Mereka merekam senyum-senyum itu. Menyimpannya dalam lembar-lembar foto. Tapi tak pernah mengembalikan senyumannya. Membeku di sana. Seperti hubungan kita yang tak lagi berlanjut entah ke mana.
Bagiku, pernah bersamamu, walaupun singkat adalah kenangan yang indah. Melewati detik-detik bersama tawamu, berada di dekatmu, adalah bahagia yang paling bahagia. Walau pada akhirnya, kita tak bisa bersama, setidaknya kenangan-kenangan itu, kejadian yang membuat kita terpisah, mereka mendewasakan kita. Kamu bersama pilihanmu. Dan aku… yang seolah-olah kuat tanpa dirimu.
Ke mana aku yang dulu? Ke mana kamu yang dulu?
Hilang. Tenggelam. Muram. Sekarang.
Apakah kau mendengar? Tiap malam, tentang tangis yang tak pernah bisa kusuarakan. Tentang ingatan, yang tak ubah-ubahnya adalah kamu. Apakah kamu memikirkan yang sama? Apakah aku pantas memikirkan kamu, di tengah hubungan yang sudah kandas?
Lalu siapa yang pantas disalahkan? Lalu siapa yang akan menggantikanmu kelak? Dan siapa… siapa aku yang sekarang.
Aku bahkan tidak mengenal siapa aku lagi. Aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan setengah dari diriku. Yang kau bawa pergi, tanpa bisa kuminta kembali. Selamat tinggal kekasih. Maafkan aku. Maafkan aku yang dulu terlampau bodoh, terlampau picik hingga aku bodoh membiarkanmu masuk dalam keadaan ini.
Selamat tinggal.

Tidak ada komentar: